PIJARTIMES.COM, WAMENA – Anggota Komisi V DPR RI, Sriyanto Saputro, mendorong percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan yang menghubungkan Jayapura dengan Wamena, Papua Pegunungan. Penguatan konektivitas darat dinilai penting untuk memperlancar mobilitas warga, menjamin distribusi kebutuhan pokok, serta mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap transportasi udara.
Dorongan tersebut disampaikan Sriyanto saat mengikuti Kunjungan Kerja Reses Komisi V DPR RI bersama para pemangku kepentingan di Wamena, Senin (12/10/2026). Ia menilai ketergantungan pada penerbangan dapat menimbulkan dampak luas ketika cuaca atau kondisi lain menyebabkan pesawat tidak dapat beroperasi.
“Kalau transportasi hanya mengandalkan jalur udara, ketika penerbangan tidak dapat dilakukan, dampaknya akan sangat luas. Multiplier effect-nya juga banyak, misalnya terhadap harga-harga kebutuhan masyarakat. Aktivitas masyarakat pun pada akhirnya ikut tersendat,” ujar Sriyanto.
Menurut Sriyanto, pemerintah telah memberikan perhatian terhadap pembangunan konektivitas di Papua. Namun, masih terdapat sejumlah pekerjaan yang perlu dipercepat agar jalur darat dapat berfungsi lebih optimal.
Jalur Jayapura-Wamena memiliki jarak sekitar 400 kilometer melalui darat, sedangkan perjalanan udara dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit. Meski demikian, perubahan cuaca yang kerap terjadi membuat penerbangan berpotensi terganggu.
Di sisi lain, pembangunan jalur darat juga belum sepenuhnya rampung. Sriyanto menyebut masih ada sekitar 47 kilometer ruas Jayapura-Wamena yang belum terbangun. Sejumlah jembatan pun memerlukan penanganan dengan kebutuhan anggaran lebih dari Rp300 miliar.
“Saya kira anggaran sebesar itu tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan dampak yang akan diberikan. Saya kira inilah momentum bagi Komisi V setelah melakukan kunjungan ke lapangan untuk mendorong percepatan pembangunan tersebut,” kata Politisi Fraksi Partai Gerindra ini.
Ia menilai penyelesaian infrastruktur tersebut akan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Jalan darat yang memadai dapat memperlancar arus barang dan orang, sekaligus membuka peluang aktivitas ekonomi di wilayah-wilayah yang dilalui.
“Kalau jalur darat dari Jayapura ke Wamena sudah mulus dan dapat ditempuh dalam waktu yang tidak terlalu lama, hal ini tentu akan turut mendorong perekonomian di beberapa daerah,” tuturnya.
Dalam kunjungan tersebut, persoalan konektivitas juga disampaikan Wakil Bupati Yahukimo, Esau Miram. Ia mengungkapkan masih terdapat berbagai kendala infrastruktur yang menghambat akses masyarakat di wilayahnya, termasuk jalur darat penghubung Jayawijaya-Yahukimo.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah kerusakan Jembatan Kali Eagec. Selain itu, sejumlah ruas jalan di Kota Dekai, akses menuju Bandara Nop Goliat, serta jalur penghubung antardistrik dan kabupaten tetangga juga membutuhkan perhatian.
Kondisi jalan yang rusak, berlubang, dan belum memadai dinilai menyulitkan mobilitas masyarakat. Situasi ini memperlihatkan bahwa kebutuhan pembangunan konektivitas di Papua Pegunungan tidak hanya berkaitan dengan jalur utama, tetapi juga akses antarkawasan yang menunjang kegiatan sehari-hari warga.


