“Kalau ada yang kurang, kita perbaiki. Kalau ada yang salah, kita koreksi. Kritik jangan dianggap sebagai ancaman. Justru kritik yang disertai solusi akan membuat program pemerintah semakin baik,” tegasnya.
Swasembada Beras Bukan Titik Akhir
De Gadjah menegaskan capaian produksi dan swasembada beras harus menjadi pijakan untuk membangun sistem pangan yang lebih luas.
Ketahanan pangan ke depan, menurut dia, perlu mencakup berbagai komoditas dengan memperhatikan kesejahteraan petani, perlindungan lahan, efisiensi distribusi serta kemampuan masyarakat memperoleh pangan bergizi dengan harga terjangkau.
“Ketahanan pangan pada akhirnya bukan hanya soal berapa ton beras yang kita hasilkan. Ini soal apakah anak-anak kita mendapatkan gizi yang baik, apakah petani kita sejahtera, apakah masyarakat mampu membeli pangan dengan harga yang wajar dan apakah kita mampu berdiri di atas kaki sendiri ketika dunia menghadapi krisis,” kata De Gadjah.
Ia pun mengajak seluruh pihak di daerah untuk ikut mengawal kebijakan pemerintah di sektor pangan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Presiden sudah meletakkan fondasi. Tugas kita di daerah adalah memastikan fondasi itu sampai ke masyarakat. Jangan hanya bagus di atas kertas. Harus terasa di sawah, di desa, di pasar, di meja makan dan terutama di kehidupan petani kita,” pungkasnya.

