Pada awal 2026, Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat program MBG telah menjangkau sekitar 55,1 juta penerima manfaat melalui lebih dari 19 ribu SPPG yang tersebar di 38 provinsi. Pemerintah juga terus melakukan pembenahan data dan tata kelola program.
Kopdes Dinilai Bisa Perkuat Posisi Petani
Salah satu elemen yang dinilai memiliki peran penting dalam mata rantai tersebut adalah Koperasi Desa (Kopdes).
De Gadjah mengatakan koperasi di tingkat desa seharusnya tidak hanya menjalankan aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi penghubung antara hasil produksi masyarakat dengan pasar.
Melalui konsolidasi hasil pertanian, koperasi dapat membantu petani memperoleh akses pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat posisi tawar mereka.
“Kita ingin petani tidak hanya menjadi produsen yang menjual hasilnya sendiri-sendiri. Kalau produksinya dikonsolidasikan melalui koperasi, kemudian pasarnya jelas, posisi tawar petani akan lebih kuat,” ujarnya.
Regenerasi Petani Jadi Perhatian
Selain persoalan produksi dan distribusi, De Gadjah menilai regenerasi petani menjadi tantangan penting dalam menjaga ketahanan pangan dalam jangka panjang.
Ia mendorong generasi muda untuk melihat sektor pertanian sebagai bidang usaha yang memiliki prospek, terutama dengan semakin berkembangnya teknologi dan mekanisasi.
Menurutnya, pertanian modern mencakup berbagai aspek, mulai dari teknologi produksi, pengolahan hasil, pemasaran digital, logistik hingga pembiayaan.
“Anak muda jangan melihat pertanian sebagai pekerjaan kelas dua. Pertanian hari ini bisa menjadi bisnis yang besar kalau dikelola dengan teknologi, manajemen dan pasar yang benar,” tegasnya.
Di Bali, persoalan regenerasi tersebut juga perlu berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap lahan pertanian produktif. Tekanan alih fungsi lahan dinilai dapat memengaruhi kemampuan daerah dalam mempertahankan produksi pangan.
“Kalau lahannya terus berkurang, siapa pun pemerintahnya akan kesulitan menjaga produksi. Jadi petani harus diperkuat, anak mudanya harus disiapkan dan lahan produktif harus kita jaga,” katanya.
Dorong Program Pangan Berbasis Komunitas
Dalam kegiatan tersebut, De Gadjah juga mendorong kolaborasi antara HKTI dan GP Ansor Bali agar tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi diwujudkan melalui kegiatan konkret.
Sejumlah gagasan yang dibahas antara lain pengembangan kebun pangan produktif berbasis desa atau komunitas, pemetaan sumber daya manusia di sektor pertanian, peternakan dan perikanan, serta pembukaan akses pasar bagi produk lokal.
Pesantren, organisasi kepemudaan dan komunitas juga dinilai dapat dilibatkan dalam edukasi terkait pangan sehat, gizi, keamanan pangan hingga upaya mengurangi pemborosan makanan.
“Kalau kita ingin ketahanan pangan menjadi gerakan bersama, jangan hanya pemerintah yang bekerja. Organisasi masyarakat, pemuda, pesantren, koperasi dan komunitas harus ikut mengambil bagian,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat ikut mengawasi pelaksanaan berbagai program pemerintah. Menurutnya, kritik yang disampaikan secara konstruktif dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki pelaksanaan program.

