Menurut De Gadjah, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap masyarakat yang harus menghadapi situasi tidak nyaman akibat antrean panjang. Meski tidak menyelesaikan persoalan pasokan BBM secara langsung, bantuan sederhana tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga selama menunggu.
“Kami menyadari bahwa membagikan air minum tentu bukan solusi utama untuk mengatasi antrean BBM. Namun, setidaknya ada kepedulian kecil yang bisa kami lakukan untuk membantu meringankan ketidaknyamanan saudara-saudara kita yang sedang mengantre,” jelasnya.
Ia menegaskan, seluruh kader yang terlibat harus mengedepankan ketulusan dan ketertiban saat menjalankan kegiatan. Pembagian air minum juga diminta tidak menghambat pelayanan SPBU maupun mengganggu kenyamanan masyarakat.
“Ini bukan tentang siapa yang paling terlihat atau siapa yang mendapat pujian. Ini tentang kepedulian. Ketika masyarakat menghadapi kesulitan, sekecil apa pun yang bisa kita bantu, lakukanlah dengan tulus,” tegasnya.
Minta Informasi Terbuka dan Penanganan Nyata
Lebih lanjut, De Gadjah mengajak masyarakat dan seluruh pihak terkait untuk menghadapi situasi ini dengan kepala dingin. Menurutnya, kerja sama dan komunikasi yang baik diperlukan agar upaya pemulihan berjalan lancar tanpa menimbulkan keresahan yang lebih luas.
Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan informasi mengenai perkembangan pasokan dan penanganan di lapangan. Dengan informasi yang jelas, masyarakat diharapkan memperoleh kepastian mengenai kondisi pelayanan BBM di wilayah masing-masing.
“Kami tidak ingin masyarakat hanya diminta bersabar tanpa adanya langkah nyata. Harapan kita bersama tentu pelayanan segera pulih dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan nyaman,” ujarnya.
De Gadjah menegaskan bahwa penanganan antrean BBM harus berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Koordinasi untuk mempercepat pemulihan pasokan perlu terus berjalan, sementara kepedulian sosial dapat menjadi bentuk dukungan bagi warga selama situasi belum sepenuhnya normal.
“Dalam situasi seperti ini, yang paling penting bukan siapa yang berbicara atau siapa yang mendapat perhatian, tetapi bagaimana kita bersama-sama membantu agar persoalan segera teratasi. Mari saling menjaga, saling membantu, dan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat Bali.”tambahnya.



