PIJARTIMES.COM, BULELENG – Kreativitas mampu mengubah bahan sederhana menjadi produk bernilai ekonomi. Hal itu dibuktikan Gede Suarsa Ariawan, warga Banjar Menasa, Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, yang mengembangkan usaha kerajinan bambu dengan sentuhan seni budaya Bali melalui Manasa Handycraft.
Dirintis secara mandiri sejak 2019, usaha tersebut memanfaatkan bambu yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar untuk menghasilkan berbagai produk kreatif. Mulai dari pulpen, tumbler, sedotan hingga asbak, semuanya dibuat dengan mengedepankan fungsi sekaligus nilai estetika.
Gede Suarsa Ariawan mengungkapkan, usaha kerajinan bambu itu bermula dari keinginannya membuat pulpen berbahan bambu. Selain bahan bakunya relatif mudah diperoleh, bambu juga memiliki karakteristik yang dapat dikembangkan menjadi produk unik.
“Awalnya saya membuat pulpen dari bahan bambu. Bahan bakunya juga tidak terlalu sulit dicari,” ujar Gede Suarsa Ariawan saat ditemui tengah mengerjakan salah satu produknya, Jumat (9/10).
Seiring waktu, ide kreatifnya terus berkembang. Produk yang dihasilkan tidak hanya mengandalkan bentuk dan fungsi, tetapi juga mengangkat kekayaan budaya Bali melalui gambar dan lukisan, termasuk tokoh-tokoh pewayangan.
Pulpen bambu menjadi salah satu produk unggulan Manasa Handycraft. Proses pembuatannya diawali dengan memilih bambu yang sudah kering, kemudian memotongnya sesuai ukuran. Badan pulpen dibuat dengan panjang sekitar 12 sentimeter, sedangkan bagian tutupnya sekitar 5 sentimeter.
Setelah dipotong, bambu diamplas hingga permukaannya halus sebelum memasuki tahap penghiasan. Gambar wayang kemudian dibuat langsung pada permukaan bambu menggunakan keterampilan tangan, tanpa bantuan pola cetakan.
“Untuk menggambar wayangnya sekitar dua menit karena saya gambar langsung, tidak menggunakan mal,” jelasnya.
Dengan proses tersebut, Gede mampu memproduksi sekitar 20 pulpen bambu setiap hari. Harga satu pulpen dimulai dari Rp25 ribu, sedangkan produk lainnya dijual dengan harga beragam sesuai desain dan tingkat kesulitan pengerjaan.
Dari usaha yang dikelolanya, Manasa Handycraft kini mencatat pendapatan sekitar Rp5 juta per bulan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang berpotensi menambah penghasilan masyarakat.
Meski demikian, pengembangan usaha masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan tenaga kerja. Jumlah pekerja yang belum memadai membuat kapasitas produksi belum optimal, sehingga kesempatan mengikuti pameran di tingkat kabupaten juga belum bisa dimanfaatkan secara rutin.
“Usaha kami masih sulit mencari tenaga kerja. Jadi untuk pameran di tingkat kabupaten juga masih jarang ikut karena produk kami terbatas,” ungkapnya.
Dari sisi pemasaran, Gede masih mengandalkan jaringan pembeli lokal yang melakukan pemesanan melalui aplikasi WhatsApp. Namun, produknya mulai dikenal lebih luas karena menarik minat tamu dari luar daerah hingga wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Desa Sinabun.



