Bintang mengatakan, konsep PPAR sebelumnya telah disusun melalui forum diskusi kelompok (FGD) yang melibatkan akademisi dan aktivis perempuan. Sebelum diterapkan secara lebih luas, program tersebut juga telah melalui tahapan uji coba.
Ia menekankan bahwa peserta pelatihan PPAR di daerah tidak sekadar diposisikan sebagai peserta. Mereka disiapkan menjadi tenaga pelatih yang nantinya dapat meneruskan pembekalan kepada kader dan perempuan lainnya di daerah masing-masing.
“Pelatihan yang kita lakukan di tingkat DPD itu adalah pelatihan para pelatih. Mereka siap menjadi pelatih yang akan menggerakkan di kabupatennya masing-masing,” kata Bintang.
Bintang menilai perempuan mempunyai posisi strategis dalam kehidupan sosial masyarakat sehingga penguatan kapasitas perempuan harus dilakukan hingga ke tingkat paling bawah.
Menurutnya, perempuan perlu mendapatkan ruang yang cukup untuk menyampaikan gagasan dan mengambil peran dalam berbagai aspek kehidupan, bukan sekadar menjadi pelengkap.
“Penguatan perempuan di akar rumput penting karena perempuan memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat,” imbuh Bintang Puspayoga.
Terkait tantangan regenerasi kader perempuan muda di Buleleng, Bintang menilai persoalan tersebut juga berkaitan dengan kesempatan generasi muda untuk mendapatkan pekerjaan di daerah asal.
Karena itu, menurutnya, perlu ada upaya membuka semakin banyak lapangan pekerjaan di daerah agar generasi muda tidak selalu harus pergi ke luar wilayah untuk melanjutkan karier.
“Kegiatan ini menjadi ruang dialog untuk menggali persoalan yang dihadapi perempuan di Kabupaten Buleleng. Kita akan berlanjut dengan penguatan kader dan pendampingan di tingkat akar rumput,” pungkasnya.



