Jelang Mahasabha XIII, KMHDI Buleleng Soroti Ruang Anak Muda dan Persoalan Umat

Kabid Litbang KMHDI Buleleng, Made Tio Suryawan
Kabid Litbang KMHDI Buleleng, Made Tio Suryawan

 

Menurutnya, persoalan tersebut tidak semata-mata merupakan persoalan teknis pendidikan, tetapi berkaitan langsung dengan keberlanjutan pendidikan agama Hindu dan pembentukan karakter generasi Hindu di masa mendatang.

 

“Persoalan guru agama Hindu tidak cukup dilihat sebagai persoalan teknis pendidikan. Ini menyangkut keberlanjutan pendidikan dan bagaimana generasi Hindu ke depan mendapatkan pendidikan agama yang memadai,” ujarnya.

 

Dalam persoalan tersebut, ia berharap PHDI dapat mengambil peran lebih strategis dengan menyuarakan kepentingan umat kepada pemerintah serta membangun komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

 

PHDI, kata dia, diharapkan tidak hanya hadir ketika persoalan umat sudah menjadi besar. Sebaliknya, organisasi keumatan tersebut perlu mampu membaca dan merespons persoalan sejak mulai dirasakan masyarakat.

 

“PHDI perlu hadir bukan hanya ketika persoalan sudah menjadi besar, tetapi sejak persoalan tersebut mulai dirasakan oleh umat,” tegas Made Tio.

 

Ia menambahkan, Mahasabha XIII dapat menjadi momentum untuk membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda Hindu dalam kehidupan organisasi. Anak muda tidak cukup hanya dipandang sebagai penerus, tetapi harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan dan penyusunan arah organisasi.

Baca Juga:  KMHDI Bali Dorong PHDI Perkuat Perlindungan Tradisi, Pembinaan Umat, dan Ekonomi Hindu

 

Made Tio menegaskan, pandangan tersebut bukan dimaksudkan untuk meniadakan berbagai hal yang telah dilakukan PHDI selama ini. Kritik tersebut justru merupakan bentuk harapan agar PHDI ke depan semakin responsif terhadap persoalan nyata yang dihadapi umat.

IKLAN
Advertisement

 

“Ini bukan untuk meniadakan apa yang sudah dilakukan PHDI selama ini. Justru ini merupakan bentuk harapan agar PHDI terus berbenah, semakin responsif terhadap persoalan umat, terbuka terhadap kritik, dan semakin kuat membangun kolaborasi,” katanya.

 

Ia menilai pembangunan umat Hindu tidak dapat dibebankan kepada satu organisasi saja. Ada banyak elemen umat, organisasi, kader, mahasiswa, dan generasi muda yang memiliki kepedulian serta gagasan terhadap masa depan Hindu.

 

Karena itu, menurutnya, yang diperlukan bukan sekadar penguatan organisasi secara internal, tetapi juga kemampuan membangun ruang kolaborasi yang dapat mempertemukan berbagai kekuatan tersebut.

 

“Bukan tentang siapa yang paling depan, tetapi bagaimana seluruh kekuatan umat, termasuk generasi mudanya, dapat berjalan bersama,” pungkas Made Tio.

Baca Juga:  KPK Amankan 17 Orang dalam OTT Pengurusan HGB di Bogor

 

Dengan demikian, Mahasabha XIII diharapkan tidak berhenti pada pertanyaan mengenai siapa yang akan melanjutkan tongkat kepemimpinan PHDI.

 

Lebih dari itu, forum tersebut perlu menjadi momentum untuk membicarakan arah perjalanan umat Hindu ke depan, termasuk bagaimana generasi muda ditempatkan sebagai bagian penting dalam menentukan masa depan kehidupan keumatan.

 

Terpopuler